Tokoh

..Chattam Amat Redjo

Masih sedikit orang yang terjun sebagai seniman tari. Maklum, profesi ini dianggap kurang menjanjikan. Tapi itu tidak berlaku bagi Chattam Amat Redjo. Pria kelahiran 13 Oktober 1943 itu sudah menekuni menjadi seniman sejak 1958. Bahkan lewat kreativitasnya, Chattam mampu mengenalkan kesenian tari Topeng Malangan ke level Asia.

Rambut Chattam sudah beruban. Kulit wajahnya pun mulai mengeriput. Maklum, Chattam sudah menapaki usia 67 tahun. Saat ditemui Radar pada Minggu (31/1) pagi, pria berkacamata ini sibuk menata bunga di depan rumahnya yang berada di Jalan Gading 14 Malang.

Meski usianya udah masuk lansia, gerakan tangan Chattam tetap cekatan saat menyiram bunga. Sejurus kemudian pria yang mengenakan pakaian batik hijau dan celana warna biru itu dengan santai melangkah ke ruang tamu.

Melihat asesori yang terpajang di dinding ruang tamu, sudah bisa ditebak bahwa Chattam merupakan sosok seniman. Di dindingnya di pajang beberapa topeng. Mulai Topeng Malangan, seperti, topeng Panji Asmoro Bangun dan Klana, serta topeng Bali dan Reog Ponorogo.

Sedangkan di sudut ruangan terdapat satu rak berisi koleksi puluhan trofi dan penghargaan yang pernah didapatkan Chattam. Mulai trofi ketika menjadi juara tari hingga penyaji tari terbaik dari level daerah hingga nasional. Seperti trofi Festival Panji di Jogjakarta pada 1978, trofi Sri Paduka Paku Alam VIII Jogjakarta, penyaji terbaik lomba penata tari pada 1978, serta piagam penghargaan Australian Government 2004 terkait skill di program kesenian tari. Piagam terakhir yang diterima Chattam adalah penghargaan dari Gubernur Jatim Soekarwo pada 16 Oktober 2009 lalu atas pengabdiannya di bidang seni dan budaya.

Chattam menceritakan, dirinya mengawali sebagai seorang seniman sejak 1958. Tepatnya setelah dia lulus sekolah rakyat (SR). Suami Suciani pun langsung ikut memutuskan ikut menjadi pemain ludruk Sopo Nyono yang berada di Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Chattam pun beberapa kali pindah ke beberapa kelompok ludruk.

Bakat Chattam menjadi seniman tari termotivasi ayahnya yang suka membawakan tembang macapat. Hal itulah yang membuatnya dia bisa membawakan tembang macapat hingga akhirnya tertarik untuk bermain ludruk. “Saya suka ludruk, karena seni itu indah. Seni itu tidak akan pernah habis untuk dipelajari,” ucap Chattam sambil membetulkan posisi kacamatanya.

Di kalangan seniman di Malang, Chattam dikenal sebagai tokoh multitalenta. Ini tidak terlepas dengan keahliannya yang tidak hanya piawai dalam menari. Akan tetapi, dia juga pandai memainkan gamelan, membuat karya tari hingga kidungan.

Namun sekitar 1970-an, dia akhirnya memutuskan fokus untuk mengembangkan kesenian tari tradisional Malang, yakni tari Topeng Malangan. Konsentrasi itu dipilih setelah mendapatkan inspirasi dari Festival Ramayana Internasional di Pandaan, Pasuruan, pada 1971.

Hasil pemikiran dengan tokoh seniman di Jatim kala itu memutuskan untuk menggali kesenian daerah yang bisa diangkat ke dunia internasional. Hingga akhirnya dia memilih menekuni kesenian tari Topeng Malangan. “Saya kaget acara levelnya internasional dan lokasinya di Jatim, tapi tarian yang disajikan tarian Gambyong yang merupakan tari khas Surakarta. Ini kan ironis sekali,” kenang Chattam.

Berawal dari acara itulah, dia kemudian bertekad mengangkat kesenian tari Topeng Malangan ke dunia internasional. Sebab, dirinya mengetahui bahwa kesenian tari Topeng Malangan sudah ada sejak zaman Belanda. Hanya saja, kesenian itu tidak pernah tereskpos di level internasional.

Diawali dengan memperbanyak buku bacaan untuk dijadikan referensi terkait kesenian tari Topeng Malangan. Bahkan, dia tidak segan-segan berdiskusi dengan sang maestro pembuat Topeng Malangan, yakni Mbah Karimun di Pakisaji. Kedekatannya dengan Karimun membuat dirinya pernah menjabat sebagai asisten pengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika (STKW) Surabaya era 1985-1989.

Kedekatan dengan Karimun, ambisi Chattam untuk memperkenalkan tari Topeng Malangan akhirnya terwujud. Pada 1989, dia terpilih sebagai duta wisata Indonesia di bawah naungan Dirjen Pariwisata RI. Berkat prestasi itulah, Dirjen Pariwisata memintanya menampilkan kesenian tari Topeng Malangan kepada publik internasional saat ada pameran kesenian dan budaya di Jepang dan Singapura.

Bahkan, topeng yang ditampilkan juga topeng karya Karimun dengan mengangkat cerita panji. “Ini kenangan saya yang tak pernah terlupakan dalam hidup saya. Ini menunjukkan bahwa tari Topeng Malangan bisa menjadi ikon Malang,” kata bapak satu anak ini.

Tapi sayang, usahanya memperkenalkan tari Topeng Malangan ini kurang mendapatkan perhatian di pemda Malang Raya. Ini terlihat dengan minimnya masyarakat Malang Raya yang mengetahui keberadaan kesenian tradisional tari Topeng Malangan.

Kurangnya perhatian ini, juga menunjukkan bahwa pemerintah tidak menyadari tari Topeng Malangan sebenarnya menjadi potensi untuk mengembangkan daerah. Mengingat tari Topeng Malangan bisa disejajarkan dengan tari Pedet (Bali), tari Jejer (Banyuwangi), dan tari Gambyong (Surakarta). “Jadi kalau tari ini dikenal masyarakat luas, secara otomatis akan mengangkat nama Malang,” ucap Chattam.

Meski demikian, upaya Chattam melestarikan kesenian tari Topeng Malangan tidak pernah padam. Dia terus merawat sanggar Swastika pemberian gurunya almarhum Ami Seno sejak 1979. Pengamatan Radar, sanggar dengan luas 6 x 12 meter terlihat bersih.

Bahkan setiap minggu, sanggar tersebut banyak digunakan untuk berlatih tari bagi beberapa siswa SMP dan SMA di Kota Malang. “Sanggar ini untuk memfasilitasi siapapun yang mau memakai untuk latihan kesenian,” ucap pria penghobi tanaman ini.

Keberhasilan Chattam dalam melestarikan seni tari Topeng Malangan membuatnya sering dijadikan narasumber para peneliti kesenian lokal dan internasional. Makanya, sanggarnya juga sering menjadi jujugan bagi wisatawan asing, salah satunya dari Amerika Serikat. Sedangkan seniman nasional yang sering berkunjung adalah Sutopo dan Butet Kertaredjasa.

Selain itu, untuk melestarikan tari Topeng Malangan, Chattam juga menjadi dosen luar biasa Program Studi Pendidikan Seni Tari, Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang (UM). Aktivitas itu dilakukan untuk menularkan ilmunya ke generasi muda. Dia berharap kesenian ini tetap langgeng dan menjadi ikon Malang. “Hasil dari mengajar sebagian untuk menghidupi biaya operasional sanggar,” ungkapnya.

..Mbah Karimun

Karimun atau Mbah Karimun (almarhum), sang mahaguru topeng Malang sekaligus pendiri padepokan itu. Karimun meninggal tepat pada Hari Valentine, 14 Februari 2010, malam, dan dimakamkan sehari kemudian.

Karimun meninggal dalam kepapaan dan kesepian di atas kasur kumal setelah bertahun-tahun menanggung komplikasi penyakit yang menggerogoti tubuh rentanya. Ia hanya ditemani istri ketujuhnya, Siti Maryam; Yani dan Sri (anak tiri kedua dan ketiga dari Siti); serta kursi roda tua, yang setia menemaninya selama 15 tahun terakhir.

Tujuh hari setelah Karimun meninggal atau sehari sebelum Sayembara Sodolanang dilangsungkan, keluarga, murid, sahabat, dan warga sekitar melakukan ziarah tabur bunga ke makam Karimun di punden Sumberkurung, Dusun Kedungmonggo, sekitar 300 meter arah utara dari dusun. Punden ini dikeramatkan warga setempat karena menjadi asal lahirnya kampung mereka.

Karimun, yang lahir pada 9 Juni 1919, meninggal dalam usia 91 tahun. Jenazahnya dikawal Pasukan Grebeg Panji (pasukan perang dalam kisah Panji) dan prosesi pemakamannya diiringi tari topeng Klono. “Tari ini kesukaan Mbah Karimun saat beliau masih muda,” kata Saini, bekas murid yang dinikahi Handoyo, cucu Karimun.

Sebelum meninggal, Karimun berpesan kepada anak-cucu dan murid-muridnya agar tetap menjaga dan melestarikan kesenian topeng. “Itu pesan terakhir Mbah Mun. Saya tidak dibolehkan bekerja selain membuat topeng. Gebyak Malam Senin Legian itu juga atas permintaan Mbah Mun,” kata Handoyo. Pesan serupa diterima Jumadi, cantrik Karimun.

Karimun mulai menari, mendalang, dan membuat topeng sejak 1930-an. Keahlian ini diturunkan dari Serun, ayahnya, petani yang juga seniman. Pada saat senggang, Serun mengajari Karimun menari topeng dengan suara gamelan yang ditirukan lewat mulut. Karimun muda sangat suka menarikan Topeng Bapang, Klono, dan Panji.

Reputasinya bersinar pada masa awal 1970-an hingga 1990-an. Ketika itu Karimun getol membuat sendiri topeng-topeng yang hendak dipentaskannya. Ia pun sering ditanggap di banyak tempat, termasuk di hadapan Presiden Soeharto. Keahliannya pernah ia tularkan di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya dan IKIP Surabaya.

Karimun lumpuh sejak peristiwa tabrak lari pada 1995. Dia bahkan harus berutang sana-sini untuk membiayai pengobatan kakinya. Kepada Tempo, sekitar tiga tahun silam, Karimun mengeluh soal kesetiaannya pada seni topeng Malangan, yang seakan tak pernah berbuah nasib baik. “Saya tak menuntut siapa pun untuk peduli dan membuat saya jadi kaya, meski kadang saya merasa sudah pantas mendapat hadiah mobil merek Karimun seperti nama saya,” katanya ngakak.

Karimun adalah seniman topeng Malang yang dinobatkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik sebagai satu dari 27 maestro seni tradisi di Indonesia pada 2007. Penobatan itu disertai penetapan pemberian santunan kepada mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: